Skripsi - tugas akhir S1 - , ataupun Thesis
- tugas akhir S2 - HARUS selesai dalam waktu 4(empat) bulan karena
2(dua) bulan diperlukan untuk ujian, revisi, dan proses yudisium.
Sifatnya sedikit berbeda. Untuk S1 tidak perlu ide baru (walau ide baru
tidak dilarang, tetapi tidak harus) dan tidak diharuskan ada analisis
yang mendalam.Selama ada desain hardware/software, ada prototipe
hardware/software, ada pengujian (testing), dan ada kesimpulan. Untuk S2
diperlukan analisis yang lebih mendalam dan ada sedikit ide (tidak
harus baru juga).
Dissertation (ini istilah USA utk tugas akhir S3, di UK tugas akhir
S3 disebut Thesis sedangkan S2 disebut dissertation). Saya cenderung
mengadopsi istilah UK, karena mahasiswa S3 diharuskan mempunyai pendapat
(thesis) tentang sesuatu hal dan kemudian membuktikan/menguji
pendapatnya dengan mambangun prototipe hardware/software. Mahasiswa S3
harus mempunyai ide baru atau memingrasikan ide X untuk problem Y
menjadi ide X untuk problem Z. Misalnya konsep virus dalam ilmu biologi
diterapkan pada konsep virus dalam ilmu komputer. Disseration S3 harus
selesai dalam waktu 3(tiga) tahun.
Skripsi, thesis, dan dissertation adalah proyek, karena itu diperlukan manajemen proyek. Dalam manajemen proyek, kita kenal
segitiga proyek
: scope (batasan masalah) , cost (biaya) , schedule (jadwal). Ketiga
hal ini membentuk quality (kualitas).Dalam tugas akhir kita melakukan
trade-off antara scope, cost, dan schedule. Bila schedule molor (ada
keterlambatan) maka pasti berimplikasi pada cost (misalnya SPP yang
harus dibayar). Karena itu, scope harus jelas sebelum kita mulai.
Kejelasan ini dapat didukung dengan membaca banyak paper ilmiah jurnal
(karen jurnal memuat paper yang telah direview oleh para pakar) dan yang
diterbitkan belum lama lalu (masih baru) agar kita tidak terjerumus
pada
reinventing the wheel,
melakukan penelitian S3 yang sudah bukan merupakan problem penelitian
lagi. Artinya, pertanyaan riset kita telah lama terjawab.
Kondisi terburuk adalah bila kita menunda-nunda selesainya tugas
akhir dengan harapan dengan bertambahnya waktu kita dapat ide yang lebih
baik yang dapat meningkatkan kualitas tugas akhir kita. Di beberapa
program studi dan perguruan tinggi, tugas akhir yang selesai tetapi
waktunya molor, tidak mungkin memperoleh A, walau bagus sekali
kualitasnya, karena melanggar kendala waktu. Lebih parah lagi, bila
sudah ditunda penyelesaiannya, tugas akhir kita tetap saja jelek
kualitasnya
Kebiasaan menunda-nunda ini disebut
procrastination. Procrastination adalah musuh produktivitas.
Pekerjaan tugas akhir bukanlah
magnum opus,
bahkan pekerjaan S3 sekalipun. Kita tidak mencari greatness
(kehebatan) tetapi completeness (kelengkapan). Mahasiswa hanya
diharuskan menunjukkan kompetensi untuk melakukan riset dan menerapkan
metodologi riset yang tepat untuk judul yang ia pilih. Tidak pernah ada
tugas akhir yang menyelesaikan persoalan dunia. yang ada adalah
menyelesaikan satu persoalan kecil dan memunculkan persoalan-persoalan
baru lainnya. persoalan-persoalan baru sebagai produk samping penelitian
S3 tertuang dalam SARAN (Future Works).
Prinsip 1 :
Do not get it perfect, get it done — Jangan menulis skripis/thesis/disertasi yang sempurna, selesaikan saja!
Prinsip 1 adalah akibat dari
Sifat 1 :
A thesis must have a flaw — setiap thesis (skripsi, disertasi juga termasuk) pasti memuat kekurangan.
Hanya kitab suci (misalnya Al-Qur’an) yang tidak mengandung kesalahan — Wa lam yaj’alahu ‘iwajan —
He has not made therein any crookedness (QS 18:1)
Mereka yang menganggap tugas akhirnya akan merupakann magnum opus,
biasanya malah tidak segera selesai dan terancam drop-out. Mungkin
karena mereka akan menulis ‘kitab suci’ maka Tuhan tdk pernah
menolongnya. Mana mungkin Tuhan menolong ‘kompetitornya’?
Tugas akhir harus diawali dengan rencana (proposal) dan rute menuju
tercapainya rencana. Kita juga harus tahu kapan berhenti (selesai).
Disertasi S3 haruslah memuat sesuatu yang baru bagi semua orang (
new to everyone). Ini adalah hasil riset primer (
primary research). Untuk memperoleh sesuatu yang baru bagi semua orang, mahasiswa S3 perlu melakukan riset sekunder(
secondary research) untuk memperoleh sesuatu yang bersifat baru untuk dirinya (
new to you). “
New to you” diperlukan untuk memperoleh pengetahuan yang cukup mengenai topik penelitiannya.
Mengapa kita perlu membaca literatur (untuk mahasiswa S2/S3 dilarang
membaca textbook. Bacalah paper dari jurnal internasional bereputasi
atau jurnal nasional terakreditasi. Textbook berisi informasi yang sudah
usang bagi riset)?
(1)
menguasai literatur - misalnya paper terbaru tahun berapa, terbit di mana, idenya apa?
(2)
memetakan komunitas - misalnya kelompok-kelompok
riset di mana saja yang melakukan riset, apa perbedaan metodenya, apa
keunggulan dan keterbatasan masing-masing.
(3)
mengidentifikasi ceruk riset kita - apa kekhasan riset kita dan bagaimana posisinya dalam komunitas riset, utk mengetahui kontribusi kita
Disertasi S3 adalah suatu bukti kompetensi riset mhs S3:
(1) penguasaan tentang topik penelitiannya
(2) kedalaman riset
(3) penghargaan atas disiplin ilmunya
(4) kemampuan meneliti secara mandiri (independent research)
(5) kemampuan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dan kaitannya dengan peneliti lain di bidangnya
Jadi disertasi S3 bukanlah magnum opus (sutau proyek penelitian yang
hebat yang berakhir pada puncak kerja hebat), tetapi disertasi S3 adalah
bukti kompetensi dan profesinalisme, bukan kehebatan!
Mhs S3 harus banyak membaca, menulis, mengelola bibliografi,
mempublikasikan, berdiskusi dg pembimbing (promotor/kopromotor), membuat
backup pekerjaannya, membaca disertasi di bidangnya dari hal 1 hingga
halaman terakhir.
Mhs S3 harus mampu menunjukkan
(1) kemampuan mengenali dan memvalidasi masalah penelitian
(2) kemampuan berpikir secara orisinil, independen, dan kritis, serta kemampuan mengembangkan konsep teoritis
(3) pengetahuan tentang perkembangan terkahir di bidang risetnya dan bidang-bidang yang terkait.
(4) pemahaman tentang metodologi riset dan teknik riset yang relevan serta aplikasinya yang sesuai utk topik risetnya.
(5) kemampuan menganalisis dan mengevaluasi secara kritis penemuannya dan penemuan orang lain
(6) kemampuan merangkum, mendokumentasikan, melaporkan, dan melakukan refleksi atas perkembangan risetnya
(7) pemahaman yang luas tentang konteks risetnya pada tingkat nasional maupun internasional
Perbedaan antara tahapan-tahapan riset S3 dapat dilukiskan sebagai berikut:
Mahasiswa S3 Tahun Pertama :
(1) mengetahui bidang penelitiannya
(2) membaca referensi untuk mengetahui apa yang telah diketahui orang (komunitas risetnya)
(3) melakukan survey, koleksi data/fakta, dan membuat laporan
(4) memikirkan bagaimana mengorganisir sumber-sumber/bahan penelitian
Mahasiswa S3 Tahun Kedua :
(1) mengetahui topik penelitiannya
(2) mengorganisir informasi
(3) memikirkan bagaimana mengidentifikasikan research questions (pertanyaan-pertanyaan riset)
Mahasiswa S3 Tahun Ketiga :
(1) mengetahui permasalahn yang ia teliti
(2) memilih informasi yang relevan
(3)memikirkan apa yang sudah disebutkan dalam research questions
Mahasiswa S3 Tahun Keempat (menjelang lulus) :
(1) memiliki research evidence (data-data pendukung thesisnya)
(2) membaca referensi untuk mengetahui apa yang belum diketahui orang
(3) mengevaluasi dan memilih informasi
(4) memikirkan tentang apa yang belum dilakukan orang lain berkaitan dengan reserach questions yang dia angkat.
Mhs S3 harus mampu menunjukkan
(1)
memposisikan research question dalam peta bidang ilmunya
(a) apa pentingnya research question tsb pada bidang ilmunya
(b) posisi research question dalam kaitannya dengan riset serupa
yang dilakukan peneliti lain
(c) identifikasi dan kritik atas pendekatan/solusi alternatif
(2)
penguasaan istilah akademik bidang ilmunya
(a) penggunaan istilah teknis secara benar
(b) menjamin bahwa tdk terjadi salah ketik, salah tanda titik,
koma, titik-koma, penggunaan tata bahasa yang kurang benar
dsb.
(c) menjamin kebenaran urutan penomoran tabel, gambar, listing
program dsb. dan merujuknya secara benar di dalam teks disertasi (tidak
boleh ada tabel, gambar, listing program yang tidak diberi nomor, atau
sama sekali tidak dirujuk. Tidak boleh ada “seperti terlihat pada gambar
di bawah ini”, tetapi sebaiknya “seperti terlihat pada gambar 3″)
(d) menjamin bahwa semua referensi dalam daftar pustka dirujuk pada
teks disertasi dengan cara perujukan yang benar. Bila daftar pustaka
urut abjad nama terakhir penulis pertama, maka perujukannya dengan cara
menyebut nama terakhir semua penulis disertai tahun terbit atau dengan
penggunaan et.al bila penulis lebih dari dua orang. Pada daftar pustaka
tdk boleh ada et.al (semua penulis harus ditulis). Misalnya
Penulis : Abdullah Paimin, Siti Nurjannah Paijem, dan Maria Magdalena Painem
Judul : Implementasi Jaringan Sensor Nirkabel Berbasis Mikrokontroller dan Zigbee
Tahun Terbit ; 2008
Diteritkan di : Proceedings Seminar Nasional Teknologi Informasi
maka di daftar pustka ditulis
Paimin, A., Paijem, S.N., dan Painem, M.M., 2008 : Implementasi
Jaringan Sensor Nirkabel Berbasis Mikrokontroller dan Zigbee, Proc.
Seminar Nasinoal Teknologi Informasi.
kemudian dirujuk dengan cara (Paimin et.al, 2008) atau (Paimin, Paijem dan Painem, 2008)
Bila perujukannya menggunakan angka, maka disusun urut kronologi perujukan. Di daftar pustaka,
[3] Paimin, A., Paijem, S.N., dan Painem, M.M., 2008 : Implementasi
Jaringan Sensor Nirkabel Berbasis Mikrokontroller dan Zigbee, Proc.
Seminar Nasinoal Teknologi Informasi.
dan dirujuk dengan cara, misalnya, menurut [3]….dst
(3)
Penguasaan literatur yang terkait
Mulailah dengan membaca paper “review” atau “survey”, misalnya search di Google : “wireless sensor network a survey pdf”
maka kita akan menemukan paper yang merangkum penelitian di bidang
wireless sensor networks, wireless sensors and actor networks, wireless
multimedia sensor networks, dsb. Peran survey paper atau review paper
sangat besar karena menghemat waktu kita. Dari pada mencarti sendiri
masing-masing paper (yang mungkin berjumlah ratusan), kita cukup membaca
rngkumannya (tentu saja dengan tetap bersikap kritis) yang telah
ditulis para peneliti kaliber dunia (biasanya review paper atau survey
paper ditulis atas “undangan” journal penerbitnya dan biasanya dipilih
tokoh dunia di bidang itu).
Karena mayoritas literatur ditulis dalam bahasa Inggris, maka
TOEFL/IELTS merupakan syarat bagi banyak program S3. Sedikit sekali mhs
S3 yang bisa survived dengan TOEFL ’seadanya’. Cara mempelajari bhs
Inggris adalah denga memperhatikan pola-pola dan memperhatikan
bagaimana orang Inggris menggunakan kata-kata bhs Inggris.
(4)
Metodologi riset : bidang yang berbeda mengadopsi metodologi riset yang berbeda. Bahkan dalam keluarga
Computing Curricula 2008
(Computer Science, Computer Engineering, Software Engineering,
Information Systems, dan Information Technology) pun berbeda-beda, walau
satu keluarga. Mhs S3 harus menguasai betul metodologi riset di
bidangnya : apa yang dianggap sbg data, bukti riset, bgmn data
dianalisis, dsb. serta mampu mengkritisi pendekatan tersebut terkait
dengan keunggulan dana kelemahannya.
(5)
Penguasaan teori dibidangnya. Teori sebaiknya
diperoleh dari paper, bukan dari textbook. Sebuah thesis/disertasi bukan
sebuah produk jadi. Kalau dalam pekerjaan S3 diperlukan menulis
software atau menyusun hardware, maka software dan hadware tersebut
‘hanya’ diperlukan untuk membuktikan pendapat (thesis) mhs S3. Mhs S3
adalah researcher, bukan developer. Tidak ada gunanya menyusun
software/hardware yang memnuhi kualitas industri, cukup prototype saja.
(6)
Kedewasaan akademik (academic maturity)
Promotor/ko-promotor hanyalah memberi masukan. Setelah itu, terserah
mhs S3 sendiri. Promotor/ko-promotor tdk bertugas mengkoreksi salah
ketik, mereka hanya ada untuk mengkritisi posisi disertasi apakah sudah
layak uji atau belum. Disertasi adalah pekerjaan independen mhs S3,
karena itu diperlukan kedewasaan akademik. Ketika saya ujian Ph.D, maka
saya hanya menghadapi penguji internal, dan penguji eksternal.
Supervisor saya tdk ada di ruang ujian, bahkan tidak menandatangani
Thesis S3 saya. Di UGM, seorang promovednus harus berhadapan dengan 9
(sembilan) orang penguji. Di UK, ujian S3 dinamakan
Ph.D Viva.
Sebuah
proposal untuk penelitian S3 harus pula memenuhi syarat “
doability”
(dapat diselesaikan) dalam waktu 3 (tiga) tahun. Sebuah proposal yang
memuat pertanyaan riset yang layak untuk pekerjaan S3 tetapi tidak dapat
diselesaikan dalam waktu 3 tahun, bukanlah sebuah proposal yang baik.
Isi
proposal, selain pertanyaan riset, juga harus memuat jadwal pengerjaan (biasanya dikemukakan dalam bentuk
Gantt Chart), serta metodologi penelitiannya (biasanya dikemukakan dalam bentuk
flowchart).